Social Icons

Pages

Selasa, 20 November 2012

ALAT PEMBUNUH KANKER

ALAT PEMBUNUH KANKER BUATAN INDONESIA
hasil penelitian dari Prof Dr Warsito Purwo Taruno

DI Center for Tomography Research Laboratory (CTech Labs) Edwar Technology, Ruko Perumahan Modernland, Tangerang, Banten, setiap hari kerja, yakni Senin-Jumat, puluhan orang datang ingin menyembuhkan diri dari gerogotan penyakit kanker. Pasien berdatangan dari berbagai penjuru. Ada dari Aceh, Papua, hingga dari luar negeri sekalipun, seperti Belgia.

Prof Dr Warsito Purwo Taruno, penemu alat berbasis medan listrik pembunuh kanker, mengatakan sudah ada lima pejabat yang datang berobat. Sayangnya, Warsito enggan menyebutkan identitas pejabat tersebut.

"Tempat ini bukan klinik. Kami tidak meminta orang yang datang untuk menginap ataupun meminum obat dari kami. Tempat ini adalah payung dari penelitian tentang alat saya," ujarnya.

Warsito menjelaskan, setiap penderita kanker yang datang akan disodori formulir persetujuan, yang menegaskan perkembangan kesehatan sang penderita akan digunakan untuk kepentingan penelitian medis. Ia mengaku sejauh ini tidak pernah menemui kendala mengenai perizinan usaha tersebut.

"Alat kami menggunakan tenaga listrik sekitar 3 volt, dan memang tidak ada peraturan yang bisa mengatur hal tersebut," tutur Warsito.

Di ruko dua lantai tersbut, Warsito bersama puluhan stafnya mengumpulkan data mengenai efek dari ciptaannya terhadap penderita kanker. Kini ia tengah mengumpulkan syarat-syarat agar alat tersebut mendapatkan clearance dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan sehingga penggunaan alat tersebut bisa disejajarkan dengan kemoterapi ataupun radiasi di rumah sakit.

Syarat-syarat yang harus ia penuhi antara lain adalah uji coba pada hewan, yang kini tengah ia lakukan terhadap kucing penderita kanker mulut. Selan itu adalah uji paliatif, yakni menguji alat tersebut pada penderita yang sudah mencoba pengobatan kemoterapi dan radiasi, tapi tidak kunjung sembuh, serta mengumpulkan data dari seratus orang pertama yang sembuh total karena alatnya.

"Saat ini drafnya sedang disusun (di kementerian). Mudah-mudahan awal tahun depan clearance-nya sudah keluar sehingga akses masyarakat untuk menggunakan semakin terbuka," kata Warsito.

Walaupun belum mendapatkan clearance, Warsito mengaku sudah menjalin kerja sama dengan jaringan rumah sakit di India. Selain itu, sejumlah pengusaha baik dari dalam maupun luar negeri juga sudah mengajukan tawaran untuk mengembangkan alat tersebut, tapi belum satu pun tawaran itu ia terima.

Warsito mengklaim alat bertenaga listrik untuk terapi kanker ciptaannya ini merupakan satu-satunya alat pembunuh seluruh sel-sel kanker pada tubuh manusia. Daya sembuh alat ini jauh lebih efektif dari kemoterapi dan radiasi yang harganya bisa mencapai ratusan juta rupiah.

Ia mengatakan alat yang ia ciptakan memberikan efek samping, yakni sel kanker yang mati di tubuh pengguna alat ciptaannya akan dikeluarkan melalui sejumlah pembuangan, misalnya feses, urine, keringat, ketombe, kotoran telinga, hingga air liur.

"Sel-sel kanker itu akan mati, dan terbawa oleh darah, yang kemudian dianggap sebagai sesuatu yang membahayakan tubuh sehingga dikeluarkan melalui mekanisme yang ada," katanya.

Untuk mengakses alat terapi kanker tersebut, seorang penderita bisa datang ke Edwar Technology. Tempat ini buka pukul 09.00-16.00 setiap hari Senin hingga Jumat. Pengguna alatnya harus membawa rekam medis dari rumah sakit, tentang kondisi kanker yang diderita. Rekam medis tersebut bisa berupa hasil computerized tomography (CT) scan, pemanfaatan magnetic resonance imaging (MRI) untuk  melakukan pencitraan diagnosis penyakit pasien, atau ultrasonography (USG).

Menurut Warsito, data-data tersebut akan diinterpretasikan sejumlah staf di bagian fisika medis untuk memutuskan jenis alat apa yang cocok digunakan si penderita kanker. "Untuk kasus tertentu (calon pengguna alat) harus diwawancarai oleh bagian fisika medis," katanya.

CTech Labs Edwar Technology menyediakan sekitar 50 buah alat pembunuh kanker. Ada alat menyerupai celana pendek untuk menyembuhkan kanker rahim, penutup dada untuk kanker payudara, helm untuk kanker otak, selimut untuk kanker darah, hingga masker untuk kanker mulut.

Menurut sang penemu, alat yang diproduksi tersedia dalam berbagai ukuran, yang disesuaikan dengan ukuran tubuh Asia. Namun tetap saja, pengukuran harus dilakukan pada setiap orang, mengukur tubuh spesifik calon pengguna, untuk disesuaikan dengan alat. Jika tidak ada penyesuaian, pada hari itu juga ia bisa mengakses alat ciptaan Warsito tersebut. Setelahnya, sang penderita kanker akan diberi pengarahan mengenai berapa lama alat tersebut harus dikenakan.

Alat-alat seharga kira-kira Rp 4 juta itu akan dipinjamkan selama enam bulan. Menurut Warsito, angka tersebut sudah cukup murah, mengingat tarif pengobatan dengan kemoterapi ataupun radiasi satu paketnya bisa mencapai ratusan juga.

"Kalau ternyata tidak mampu, kami juga memberikan keringanan. Kami di sini tidak cari untung. Yang membawa surat keterangan tidak mampu (SKTM) pun kami terima, kami berikan diskon 70 persen, walaupun kami tidak kerja sama dengan pemerintah untuk hal itu," katanya.

Selama pemakaian alat itu, pasien dilarang untuk mengonsumsi makanan dengan kadar hormon tinggi, seperti kerang, udang, dan cumi-cumi. Pasien juga diminta untuk rutin memeriksakan kesehatannya ke rumah sakit, lalu melaporkannya ke pihak Edwar Technology untuk dipantau perkembangannya, dan melakukan penyesuaian alat bila perlu.

"Umumnya setelah enam bulan bisa terlihat hasilnya. Tapi banyak juga yang sebelum enam bulan sudah dinyatakan sembuh total," kata Warsito.

Rekor penyembuhan tercepat dialami seorang perempuan berumur sekitar 35 tahun, penyandang penyakit kanker payudara stadium tinggi. Setelah tiga minggu menggunakan alat ciptaannya, perempuan tersebut dinyatakan bebas dari kanker.

Selain di CTech Labs Edwar Technology, alat ciptaannya juga bisa diakses di Rumah Sakit Islam Banyu Bening, Solo, Jawa Tengah; Rumah Sakit Al-Irsyad Surabaya, Jawa Timur; dan di sebuah klinik di Semarang. Prosedur yang harus dilalui pasien pun menurutnya tidak berbeda dengan di kantor CTech Labs Edwar Techonogy.


Sumber :
  Alat pembunuh kanker

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar